Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / NASIONAL / Komnas Anak Selamatkan Anak Papua Dari Perdagangan

Komnas Anak Selamatkan Anak Papua Dari Perdagangan

Jakarta, PAPUANEWS.ID – Kondisi memilukan terjadi kepada tujuh anak asal Papua yang di temukan di penampungan illegal di Jalan Intisari Raya, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur pada Jumat (17/2) lalu. Rumah penampungan itu dikelola oleh SK (35) oleh Ketua Umum Komnas Anak Arist Merdeka Sirait atas laporan warga yang melihat beberapa anak papua di penampungan tersebut.

Ketujuh orang anak Papua tersebut berusia 3 sampai 13 tahun yang menjadi korban dugaan praktik eksploitasi anak-anak dengan inisial K, M, YY, Y, CH, CJ dan Y.

“Dari tujuh korban, empat diantaranya telah dipulangkan ke Timika sedangkan tiga orang lainnya masih di sini karena harus melakukan visum,” terang Arist.

Empat di antaranya sudah diketahui identitasnya. Sedangkan tiga anak lainnya masih didientifikasi, dan saat ini sudah berada di rumah aman milik Kementerian Sosial. Arist menambahkan ketiga anak tersebut besok akan melakukan visum di RS Polri Kramat Jati.

Baca juga :   Tim SM3T Pekanbaru Menggalang Donasi Untuk Pendidikan Anak-Anak Papua

“Yang tiga saat ini sedang diupayakan, asalnya, orang tuanya di mana. karena sekarang infonya masih sangat gelap. Besok kami konfirmasi ke Polres Jakarta Timur,” kata Arist.

Arist mengatakan, SK dalam aksinya datang langsung ke Timika, Papua. Pelaku menemui orangtua korban kemudian menjanjikan bahwa anaknya akan diseminari atau diikutsertakan di salah satu sekolah di Jakarta.

Setelah dua tahun berpisah, akhirnya terungkap bahwa penampungan tersebut tidak selayaknya bagi anak-anak. Selama ini, mereka hidup berpindah tempat. “Ketika kami datang ke Pasar Rebo (lokasi penampungan) itu rumah biasa saja. Faktanya anak-anak itu home schooling tanpa guru,” jelasnya.

Salah satu korban berinisial K pun melarikan diri dari rumah penampungan dengan cara memanjat tembok setelah mengalami kekerasan dengan tuduhan mencuri roti dari salah satu warung di seberang rumah penampungan.

Dari pengakuannya dia menceritakan pengalamamnya selama 2 tahun kerap mengalami kekerasan dari pengasuhnya. Korban K sering dipukul dan ditampar jika tidak mengerjakan pekerjaan dirumah bahkan seringkali kekurangan makanan.

Baca juga :   Natalius Pigai : Separatis Papua Seharusnya Kena Sanksi HAM Berat

Yulita Dimara, orang tua salah satu korban, mengatakan, SK yang kala itu berpakaian ala biarawati datang langsung ke Papua dan meminta agar anak-anaknya diizinkan untuk dibawa ke Jakarta. Alasannya, anak-anaknya itu akan di sekolahkan di seminari atau dimasukkan ke sekolah Katolik.

 “Suster (biarawati) itu terkenal, sering ke Timika, kenal semua. Suster itu datang ke Papua, langsung menyerahkan formulir, kami isi, katanya mau dikasih masuk ke sini, di asrama. Berkas-berkas semua diselesaikan dalam dua hari saja,” kata Yulita.

Namun semenjak dibawa tersangka pelaku pada sekitar dua tahun lalu, Yulita mengaku sulit untuk bisa berkomunikasi dengan anak-anaknya tersebut. Bahkan, dalam kurun waktu dua bulan hanya satu kali dapat menghubungi nomor telepon SK.

“Nomernya tidak pernah aktif. Nomer tidak pernah berganti,” kata Yulita. (dw)

Komentar Anda

About DAWAR

Berbagi kebahagiaan dengan Cinta yang natural dan berimbang | Surf Your Life | Brake The Limit.

Check Also

Presiden : Harga BBM Naik Rp 500, Jakarta Demo Sampai 4 Bulan, Coba Lihat Warga Papua

Jakarta, PAPUANEWS.ID – Presiden RI Ir. Joko Widodo menyinggung atas kenaikan yang beberaa kali naik ...