Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / TEKNOLOGI / Apakah Anda Percaya Serangan Ransomware Wanna Cry?

Apakah Anda Percaya Serangan Ransomware Wanna Cry?

PAPUANEWS.ID – Belakangan ini hampir seluruh pengguna PC di Indonesia bahkan di dunia menjadi heboh dengan adanya peringatan baik dari pemerintah maupun situs berita nasional tentang adanya serangan malware yang dapat mengenkripsi data korbannya dan di kenal dengan nama Ransomware Wanna Cry.

Sejak jumat, 12 Mei 2017 diperkirakan sekitar 100 negara telah terkena serangan ganas ini, termasuk Indonesia. Sehingga Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengeluarkan siaran pers berupa himbauan agar segera melakukan tindakan pencegahan terhadap ancaman malware khususnya Ransomware Jenis WannaCRY.

Ransomware sendiri adalah malware (malicious software) yang menyerang korbannya dengan mengenkripsi dokumen pada PC terlebih lagi yang terhubung dengan jaringan. Korban dapat mengakses kembali file dan PC mereka setelah membayar sejumlah tebusan kepada pelaku kejahatan cyber. Infeksi Ransomware sering dimulai saat user mengklik suatu lampiran dan mendownloadnya ke dalam PC mereka.

Sejarah Ransomware Wanna Cry

Ransomware bukanlah virus/malware yang benar-benar baru, malware yang meminta tebusan pada korbannya ini telah ada bahkan sebelum dunia mengenal adanya teknologi email bahkan internet seperti saat ini. Pendistribusian malware tersebut pada awal kemunculannya hanya menggunakan media seperti floppy disk/disket dengan menggunakan jasa pos. Memang terdengar aneh tapi itu faktanya, bahkan Ransomware terdahulu lebih berbahaya dibandingkan turunannya saat ini. Pada bulan Desember 1989, sebanyak 20.000 disket yang berisikan software pendidikan tentang AIDS disisipi malware tersebut dan dikirimkan ke 90 negara.

Berita tentang serangan Ransomware

Sepanjang tahun 2016 dilaporkan sejumlah negara terkena serangan malware ini salah satunya adalah sebuah rumah sakit di Hollywood, Amerika Serikat. Rumah sakit tersebut kemudian membayar tebusan $ 17.000 atau sekitar Rp. 226 juta agar jaringan mereka pulih kembali.

Di Inggris, sebanyak 16 rumah sakit terpaksa harus ditutup.  Sebab, saat para pekerja rumah sakit berusaha untuk mengakses komputer, mereka menemukan tuntutan untuk memberikan tebusan sebesar USD300 atau Rp. 4 juta dalam bitcoin.

Indonesia yang juga terkena dampak dari serangan malware ini dialami oleh rumah sakit Harapan Kita dan rumah sakit Dharmais yang mengakibatkan pelayanan terhadap pasien terganggu. Namun pihak rumah sakit Dharmais melalui Presiden Direkturnya, Abdul Kadir mengatakan bahwa rumah sakit tidak akan membayar permintaan uang tebusan tersebut.

Baca juga :   Satelit Telkom 3S Beroprasi Pada Pertengahan April

Mengapa Rumah Sakit menjadi sasaran serangan Ransomware?

Bisnis kecil dan menengah menjadi target populer bagi Ransomware karena mereka cenderung memiliki cyber security yang lemah daripada organisasi besar. Ini disebabkan karena mereka hampir selalu mau membayar. Rumah sakit juga sering kali sangat ketakutan kehilangan akses terhadap data karena hal tersebut merupakan masalah seumur hidup atau kematian bagi mereka. Rumah sakit tidak ingin bertanggung jawab dengan membiarkan orang meninggal karena keamanan cyber yang buruk.

Uang tebusan paling umum yang dibayarkan di antara usaha kecil dan menengah adalah sekitar Rp. 8,5 juta hingga Rp. 25 juta. Ini membuktikan bahwa masih ada uang yang mudah didapat dari penargetan terhadap perusahaan kecil dan menengah.

Bagaimana Ransomware Menginfeksi PC anda?

Seperti bentuk malware lainnya, Ransomware akan dikirimkan secara massal oleh botnet melalui jutaan email phishing setiap detiknya. Pelaku cyber crime  ini akan menggunakan berbagai umpan agar korban membuka email Ransomware dengan penawaran bonus finansial, jual beli online, video seks dan banyak lagi.

Disini sumber daya manusia dari perusahaan tersebut diuji, karena banyak dari mereka tidak tahu bahaya dari malware ini.  Setelah lampiran tersebut dibuka, pengguna didorong untuk mengaktifkan makro agar dapat melihat dan mengedit dokumen. Saat makro diaktifkan, kode ransomware bersembunyi di dalam makro. Ini bisa mengenkripsi file dalam hitungan detik dan selanjutnya meminta pembayaran mulai dari beberapa ratus dolar sampai puluhan ribu dolar untuk memulihkan sistem.

Kesimpulannya

Apa yang dilakukan oleh Menkominfo sebagai salah satu lembaga yang bertanggung jawab atas keamanan cyber dan konten internet nasional sudah benar, namun yang sangat disayangkan adalah media-media di Indonesia bukannya mendidik tapi malah ikut melakukan brainwash secara masiv. Bagaimana tidak, dari sejarah Ransomware sendiri, malware tersebut bukanlah hal baru bagi dunia IT namun semakin dibesar-besarkan ketika ada beberapa rumah sakit di Indonesia juga terkena imbasnya.

Baca juga :   Film Doctors Strange Ternyata Gunakan Teknologi Canggih

Jika saja kita mau berfikir logis, tentang penyebaran virus yang terjadi selama ini semuanya selalu berkaitan dengan jaringan dan internet, jadi permasalahannya adalah kembali lagi pada sumber daya manusianya dan kemanan jaringan serta PC itu sendiri. Mengapa demikian? karena jika tangan kita tidak sembarangan mengklik file yang terpercaya atau file OS kita asli dan anti virus kita juga telah terupdate semua itu tidak akan menjadi masalah besar.

“Bad News is Good News,” media sering kali mengangkat hal-hal buruk bahkan Hoax untuk dijadikan komoditas pemberitaan mereka hanya untuk mengejar trafic visitor atau rating tanpa memikirkan dampak yang diakibatkan. Banyak perusahaan di Indonesia, Senin 15 Mei 2017 memberikan himbauan untuk tdak menjalankan komputernya yang pastinya memberikan kerugian tersendiri baik bagi perusahaan dan karyawannya, terlebih lagi bagi negara kita.

Sekarang siapa yang diuntungkan oleh bisnis besar penyebaran berita Hoax tentang virus/malware di Indonesia?

Media sudah pasti. Geli rasanya kalau mendengar pemberitaan serta himbauan mereka namun hingga saat ini semua media yang memberitakan keganasan Ransomware masih membuat berita dan menayangkannya, berarti tidak ada ancaman sama sekali tentang virus Hoax Ransomware Wanna Cry ini.

Bayangkan jika kita secara bodoh mengikuti penyebaran berita Hoax yang menyarankan agar kita tidak menyalakan komputer dan internet pada hari kerja, Senin 15 Mei 2017 kemarin. Gampang saja, artinya penerbangan nasional akan terganggu, pasar sahampun berhenti beroperasi, perekonomian menurun drastis dan sudah pasti negara penyebar Ransomware tersebut akan tertawa puas (WannaLaugh) melihat banyak negara lain terkena serangan Hoax secara besar-besaran.

Kami masih percaya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdas. Jadi, be smart, pandai-pandailah memilih dan memilah berita, analisalah terlebih dahulu isi dan maksud dari berita tersebut, cari fakta terkait pemberitaan tersebut dan yang paling penting, saring before sharing tidak perlu menjadi kepanjangan tangan dari penyebar virus Hoax Ransomware Wanna Cry.

Komentar Anda

About Charles Suebu

Netizen asal Papua yang memiliki pandangan berbeda terhadap dunia luar.

Check Also

Teknologi AI Buatan Google Bantu NASA Temukan Planet Baru

PAPUANEWS.ID – NASA baru saja mengumumkan penemuannya tentang planet yang mengitari sebuah bintang utama, mirip ...